Sunday, March 3, 2019

Siap Tembus Pasar Ekspor, Cabai Kering Olahan Grobogan


Di mana ada kemauan selalu ada jalan. Hambatan dan rintangan jika diiringi keyakinan akan berbuah kesuksesan. Slogan ini melekat pada Kelompok Tani Sido Makmur asal Desa Pilangpayung Kecamatan Toroh, Kabupaten Grobogan. Kelompok tani beranggotakan kaum ibu ini mengembangkan usaha olahan dengan mengambil peluang saat harga panen cabai rendah.

Muncullah ide bagaimana mengolah cabai agar lebih awet dan memiliki nilai ekonomi lebih tinggi. Sebagaimana diketahui, cabai memiliki kandungan air berkisar 70 – 90% sehingga mengakibatkan cabai cepat membusuk. Di sisi lain permintaan cabai yang cenderung datar terkadang mengakibatkan ketidakstabilan harga di pasaran apabila pasokan berlebih .

Direktur Pengolahan dan Pemasaran Hasil Hortikultura Yasid Taufik mengatakan, “Mengolah cabai menjadi sambal, pasta atau cabai kering siap konsumsi merupakan salah satu solusi mengantisipasi fluktuasi harga. Kelompok tani ini memproduksi dan memasarkan hasil olahannya menggunakan merek Sambal Bledek. Sambal ini dikemas dalam botol yang mudah dibawa.”

Sambal Bledek dikonsumsi hampir di seluruh Indonesia, tidak hanya oleh warga Kabupaten Grobogan saja. "Sambal ini bahkan dikirim sampai ke luar negeri seperti Australia, Malaysia, Taiwan, Hongkong, Jepang, Korea, Vietnam, Saudi Arabia, Turki dan berbagai negara lain," tambah Yasid.

Sambal Bledek memiliki tiga varian rasa yaitu rasa original, rasa ikan peda dan rasa ikan teri medan. Sambal ini juga memiliki tiga tingkat kepedasan untuk setiap rasanya, yaitu level 5 (lima) untuk tingkat kepedasan paling rendah, level 10 (sepuluh) untuk tingkat kepedasan medium dan level 15 (lima belas) untuk tingkat kepedasan paling tinggi. Sambal olahan ini berbahan dasar cabai kering yang dipadukan dengan bawang merah, bawang putih, terasi dan sebagainya.

Produk ini mengantongi sertifikat kesehatan dari Dinas Kesehatan Kabupaten Grobogan P.IRT No. 2113315100502-22. Sambal yang berasal dari cabai kering mampu bertahan 6 bulan bahkan lebih tanpa menggunakan bahan pengawet. Sejauh ini usaha sambal cukup membantu perekonomian warga sekitar.

Kasubdit Pengolahan Hasil Hortikultura Diah Ismayaningrum  didampingi Kasie Pasca Panen dan Pengolahan Hasil Hortikultura Kertaryatingsih beserta Jumari dari Dinas Pertanian dan Perkebunan Provinsi Jawa Tengah meninjau operasional bantuan yang telah diberikan pada kelompok ini.

"Direktorat Jenderal Hortikultura Pertanian melalui dana APBN 2018 memberikan bantuan berupa oven, blender besar, spiner, etalase untuk memajang dagangannya dan penggorengan komplit. Sarana ini diharapkan menunjang proses produksi karena permintaan juga semakin besar," ujar Diah.

Ninik Maryani, sang ketua kelompok sangat optimistis dengan perkembangan usaha sambal ini. Dirinya berharap bisnis ini terus berkembang dan diterima masyarakat sebagai alternatif konsumsi saat harga cabai mahal. Selain itu sambal kemasan ini mudah dibawa, tahan lama, dengan bermacam variasi rasa.

"Saat ini penjualan sambal bledek per bulan baru mencapai 1000 - 1300 botol dengan omzet berkisar Rp 21 - 25 juta," jelas Ninik.

Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Grobogan Edhie Sudaryanto mengatakan, “Kabupaten Grobogan merupakan sentra cabai potensial. Dengan adanya pelaku usaha pengolahan cabai diharapkan dapat memberikan nilai tambah dan meningkatkan daya saing bagi petani pengolah. Bantuan alat pengolahan diharapkan akan menjadi stimulan bagi petani untuk lebih menggiatkan pengolahan cabai.”

Selain itu, olahan cabai di Kabupaten Grobogan sangat potensial karena didukung adanya promosi dan pemasaran. Ketersediaan informasi harga juga dibantu oleh pasar tani yang juga menjadi binaan Dinas Pertanian Kabupaten Grobogan.

“Kabupaten Grobogan merupakan sentra cabai yang sangat potensial untuk dikembangkan menjadi sentra pengolahan cabai, adapun harganya juga tidak terlalu berpengaruh karena harga selalu dikawal oleh Dinas Pertanian Kabupaten Grobogan. Di samping itu digiatkan pula pasar tani yang merupakan pasar penyangga antara produsen dan konsumen,” tambah Edhie.

Sebagai informasi, pasar tani diselenggarakan setiap hari jumat di halaman kantor Dinas Pertanian Kabupaten Grobogan mulai pukul 06.30 - 10.00 WIB. Ninik Maryani sendiri selalu membeli bahan baku bawang merah dan cabai untuk olahannya dari pasar tani.

[Budi*]

post written by:

0 komentar: