Wednesday, March 6, 2019

Jurus "Off Season" Solusi Ketersediaan Bawang Nasional


MEDIANUGRAH.COM (Madura 5/3) - Kementerian Pertanian terus berupaya menjaga stabilisasi pasokan bawang merah melalui manajemen tanam. Dirjen Hortikultura, Suwandi terus mengingatkan 10 jurus menjaga stabilisasi cabai dan bawang merah.

"Salah satu cara ampuh agar pasokan terus merata sepanjang waktu yaitu dengan mendorong perluasan tanam di daerah - daerah yang bisa tanam di luar musim," selanjutnya, "Diharapkan muncul sentra - sentra pertanaman off season sebagai penyangga pasokan di luar musim tanam seperti Pamekasan ini."

Dirinya juga menekankan pentingnya menggunakan benih unggul, mengikuti aturan pola tanam antar waktu antar wilayah. "Gunakan juga pupuk organik buatan sendiri agar lebih efisien demikian dengan pestisida gunakan buatan sendiri."

Direktur Sayuran dan Tanaman Obat, Moh Ismail Wahab takjub saat melihat hamparan 600 hektare bawang merah di Desa Bangsereh, Kecamatan Batumarmar, Kabupaten Pamekasan.

"Luar biasa," gumamnya. "Saat intensitas hujan tinggi seperti sekarang ini, sebagian besar sentra bawang merah mengurangi luas tanamnya. Berbeda dengan Pamekasan yang justru puncak tanam bawang merah."

Direktur yang akrab dipanggil Ismail ini memuji pola tanam yang dikembangkan di daerah ini, "Ini yang disebut tanam di luar musim atau off season. Pola tanam ini solusi untuk mengisi kebutuhan nasional saat pasokan berkurang. Jadi simpanan, istilahnya."

Hasil panen bawang merah varietas Manjung asli Pamekasan memiliki daya tahan tinggi saat musim hujan. Produktivitas mencapai 6 - 7 ton per hektare bahkan bisa mencapai 10 ton per hektare di musim kemarau.

"Panen raya di Pamekasan terus berlanjut di bulan Maret sampai April. Dampaknya, petani di sini sering memperoleh harga baik. Saat ini saja grade super Rp 25 ribu per kg dan yang biasa Rp 17 ribu per kg. Harga bagus itu," terangnya.

Kendati senang dikunjungi, Musafi, Ketua Kelompok Tani Tani Sejati, juga berharap perhatian lebih dari pemerintah untuk para petani di wilayahnya.

"Di sini kebanyakan petani swadaya. Alhamdulillah dengan modal Rp 50 - 60 juta per hektare, kita masih bisa dapat untung. Bahkan sekarang pedagang Jawa kejar barang ke sini untuk dikirim ke Jakarta sampai Kalimantan," ungkapnya bahagia.

Petani Batumarmar biasa tanam tiga kali dalam setahun terutama di lokasi cukup air. "Mohon bantuan pemerintah untuk alat kultivator, pompa dan traktor karena petani sangat membutuhkannya," pinta Musafi dengan logat khasnya.

Kepala Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura dan Perkebunan Kabupaten Pamekasan, Lisa Widyawati mengaku kerap menyambangi kebun bawang merah di wilayah ini terutama di puncak musim hujan.

"Kendala di sini jika tanaman terkena embun upas besoknya langsung rebah dan muler. Apalagi kalau umur tanaman masih 15 - 30 hari, sangat rentan," terangnya. Untuk menekan resiko gagal, petani langsung mengaplikasikan cukup fungisida ke tanaman mereka. "Masih bisa dipanen, tapi provitasnya turun."

Dalam kesempatan yang sama, Lisa memperkenalkan beberapa petani muda, "Mereka ini lulusan S1, pernah menghadap saya dan menyampaikan bahwa mereka serius ingin bertani dan memajukan desanya. Yang begini perlu didukung."

Saat ditanyakan motivasi, mereka menyatakan niatnya untuk memajukan desa. "Dengan bertani bawang merah, kami ingin memajukan desa. Saya bangga karena petani itu berjasa bagi negara. Tidak hanya pekerja kantoran saja yang berdasi, bisa jadi petani dapat juga dapat berdasi," ujar Rohmady Efendi, salah seorang di antaranya.

Pamekasan sebagai sentra bawang merah di Pulau Madura memiliki luas panen sebesar 2.600 hektare pada 2018 lalu. Angka terbesar di Kecamatan Batumarmar, dengan produksi 186 ribu kuintal. Kementerian Pertanian telah mengalokasikan APBN senilai lebih dari Rp 42 miliar termasuk bantuan benih hortikultura yang dialokasikan untuk Kabupaten Pamekasan tahun ini.

[Budi*]

post written by:

0 komentar: