Saturday, March 16, 2019

Efisiensi Biaya Produksi, Bantaeng Siap Bentengi Bawang Putih Nasional


Program perluasan areal tanam bawang putih yang digencarkan Kementerian Pertanian meluas hingga ke wilayah timur Indonesia, salah satunya Kabupatenn Bantaeng, Sulawesi Selatan. Daerah yang dulunya terkenal sebagai sentra bawang merah kini makin berkibar dengan program pengembangan bawang putih. Menariknya, petani bawang putih Bantaeng tetap mempertahankan budidaya ramah lingkungan yang terbilang sangat efisien.

Direktur Sayuran dan Tanaman Obat, Muh Ismail Wahab saat mengunjungi sentra Bonto Marannu Bantaeng mengaku takjub dengan perkembangan bawang putih di wilayah tersebut. Dirinya meyakini, didukung kondisi agroklimat yang cocok dan petani yang ulet, Bantaeng bisa menjadi lumbung bawang putih nasional di kawasan timur Indonesia.

“Petani di sini sangat menjaga kualitas tanah dan lingkungannya. Penggunaan pestisida sangat minim. Sebaliknya mereka memperbanyak penggunaan pupuk organik dan bahan - bahan ramah lingkungan. Mulsa juga tidak pakai namun ternyata pertumbuhannya terlihat sangat bagus," ujarnya.

Pria asal Madura ini memuji pola budidaya ramah lingkungan yang diterapkan di wilayah ini dan menghimbau agar dicontoh petani lain. "Ini pola budidaya yang efisien, bisa dicontoh petani lain di Indonesia. Tak perlu jor - joran pestisida dan lebih mengandalkan pupuk organik supaya tanah semakin subur," tukas Ismail.

Petani bawang putih, Muh Taher mengaku senang bisa tanam bawang putih di lahan miliknya, "Biaya produksi yang saya keluarkan hanya sekitar Rp 10 - 11 juta per hektare. Benihnya dibantu dari pemerintah. Pengeluaran paling banyak untuk beli pupuk kandang yaitu 10 ton per hektare atau Rp 6,4 juta per hektare."

Taher bercerita bahwa pengerjaan lahan dikerjakan sendiri, sementara untuk biaya tanam cukup mengeluarkan sekitar Rp 1 juta per hektare, "Sedikit saja saya pakai fungisida. NPK dan ZA juga seperlunya. Mulsa juga tidak perlu pakai, yang penting rajin menyiangi. Bisa dibuktikan sendiri, hasilnya terlihat sangat bagus dan saya yakin hasil panen akan lebih dari 12 ton."

Senada dengan Taher, anggota Kelompok Tani Sipassiriki Desa Bonto Marannu, Kecamatan Uluere Bantaeng, Samsudin menyebut biaya produksi yang dilakukannya terbilang murah.

“Saya tanam lumbu hijau sejak November 2018 lalu. Hasilnya sangat bagus dan tumbuh subur padahal saya hanya mengandalkan pupuk kandang. Benih dan pupuk anorganik saya peroleh dari Kementerian Pertanian. Sengaja kami tak pakai mulsa untuk efisiensi. Hasilnya sangat bagus. Panen nanti diperkirakan mencapai 10 - 12 ton per hektare. Soal kualitas kami berani diadu dengan daerah lain," imbuhnya.

Kasubdit Bawang dan Sayuran Umbi, Muh Agung Sunusi mengatakan pihaknya telah mengalokasikan bantuan pengembangan bawang putih seluas 50 hektare di Bantaeng pada 2018. Pada 2019 dinaikkan menjadi 150 hektare.

"Sampai 2020 nanti kami masih fokuskan untuk produksi benih. Untuk Bantaeng, sentranya penanamannya tersebar di Kecamatan Uluere, Sinoa dan Ermes. Untuk Uluere sendiri ada di Desa Bonto Daeng, Bonto Tangga, Bonto Marannu dan Bonto Lojong. Lokasi yang terluas di Bonto Lojong. Berada di ketinggian diatas 1.300 m dpl sangat cocok untuk bawang putih," jelas Agung.

Saat dikonfirmasi, Kepala Dinas Pertanian TPH Provinsi Sulawesi Selatan, Fitriani mengatakan pihaknya akan terus mendorong pengembangan bawang putih di wilayah - wilayah dataran tinggi.

"Selama ini Kawasan dataran tinggi didominasi bawang merah. Nanti kami dorong agar dikembangkan bawang putih. Secara bertahap akan kita geser pengembangan bawang merah dari dataran tinggi ke dataran rendah dengan varietas-varietas yang sesuai," ungkap Fitriani. “Harapannya, kita ingin ada pemerataan pendapatan petani di wilayah dataran tinggi dan dataran rendah, misalnya di wilayah Bantaeng, Sinjai, Jeneponto, Pinrang, Pangkep maupun Bone. Semua petani bisa sejahtera dengan bawang."

Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Bantaeng, Rahmania turut bangga dengan pengembangan bawang putih ini. "Kawasan Loka Kecamatan Uluere sekarang tumbuh menjadi sentra bawang putih. Awalnya sulit sekali mengubah mindset petani agar mau tanam bawang putih. Maklum selama ini sudah nyaman dengan bawang merah, kentang dan wortel. Namun setelah saling tengok ada yang berhasil, para petani bergerak menanam bawang putih."

Potensi lahan di Kecamatan Uluere bisa mencapai 2.600 hektare. Khusus Desa Bonto Lojong saja bisa mencapai 1.000 hektare. Menurut Rahmania, pada 2020 pihaknya akan mengalokasikan dana talangan melalui APBD untuk menyerap panen bawang putih untuk dijadikan benih.

"Tahun depan kami bisa swasembada benih tanpa harus beli dari daerah lain. Kami yakin bisa menjadi penghasil benih bawang putih terbesar di wilayah timur Indonesia," pungkasnya semangat.

[Budi*]

post written by:

0 comments: