• Berita Terbaru

    Durian lokal Ranah Minang Primadona, Ekspor Indonesia Naik 353 Persen


    Kementerian Pertanian (Kementan) berkomitmen untuk terus meningkatkan pengembangan buah-buahan lokal asli tanah air salah satunya adalah buah durian atau yang kita kenal dengan sebutan King of Fruits.

    Kemarin, Kamis (28/2/2019), Direktur Jenderal Hortikultura Suwandi, bersama dengan anggota Komisi IV DPR RI, Hasanuddin, Kepala Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura dan Perkebunan Provinsi Sumatera Barat, Chandra, Assisten II Pemda Provinsi Sumatera Barat Benni Warlis berkunjung ke Solok mencari durian lokal khas setempat.

    Salah satu pohon durian yang disambangi Dirjen Suwandi dan rombongan adalah kebun 40 hektar dengan 4.000 pohon milik Pak Anjung di Kecamatan Kubung. Jenis durian lokal yang ditanam belum dirilis antara lain jantung selayo, tembaga selayo, tembaga emas, tembaga super, kunyit super, sanggan, sehelai sarawq, kubung, madu racun, maupun bangau berat berkisar 3,5 hingga 6,5 kg per butir.

    Anjung pemilik kebun durian tersebut mengatakan membudidaya jenis durian Matahari yang pada saat panen raya mampu berbuah paling banyak 1.000 butir per pohon. Namun harga durian di kebun masih murah di petani Rp 15.000 per butir.

    "Harga di petani ini berbeda dengan di Jakarta bisa mencapai harga Rp 40.000 hingga Rp 50.000 per butir," ujarnya.

    Menurut Anjung, perbedaan harga tersebut justru merupakan sebuah peluang bisnis yang cukup terbuka. Dia memiliki durian lokal yang unik, belum ada di daerah lain yakni jenis Madu dan Racun yang bisa berbuah hingga mencapai berat 8 kilogram per butir.

    "Jenis durian lainnya adalah durian Madu Racun. Salah satu keunikan durian tersebut adalah satu butir durian Madu Racun tidak akan habis untuk 4 orang. Saking besarnya durian ini sehingga sering disebut dengan Durian Galon. Pohon durian ini bisa berbuah 800 sampai 1.000 buah per pohon," ungkap Anjung

    Anjung menjelaskan di kebunnya juga terdapat durian jenis Bango yang salah satu keisitimewaannya adalah memiliki rasa tidak kalah dengan durian Musang King. Satu butir durian Bango bisa dijual Rp 350 ribu per butir. Menurutnya, supaya pohon durian berbuah lebat, caranya menerapkan aturan tanaman sesuai dengan kaidah SOP.

    "Kami benar-benar mengikuti setiap tumbuh kembangnya durian seperti pada pemberian pupuk organik, pencegahan hama penyakit dan sebagainya," sambungnya.

    Anggota Komisi IV DPR RI, Hasanuddin menyatakan kepuasannya dapat mencicipi nikmatnya durian khas Solok. Sebagai warga asli Solok, dia merasa bangga dengan beragamnya jenis durian yang ada di tanah air khususnya asli Solok.

    "Di sini tidak hanya dikenal beras dan kopi maupun bawang merahnya, tetapi duriannya juga hebat," ujarnya

    Hasanuddin berharap agar pemerintah dalam hal ini Kementan melanjutkan komitmennya untuk memberikan perhatian terhadap pengembangan buah-buahan asli tanah air. "Khususnya buah-buahan yang berasal dari kekayaan alam Solok," pintanya.

    Kepala Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura dan Perkebunan Provinsi Sumatera Barat Chandra menyampaikan apresiasi atas perhatian Kementan dan DPR RI. Hal tersebut bisa memberikan semangat kepada petani untuk terus berkebun dengan baik dan mempromosikan durian lokal khas Solok agar bisa diterima masyarakat luas yang pada gilirannya dapat memperluas pasar durian untuk meningkatkan kesejahteraan petani durian.

    "Saat ini terdapat beberapa durian jenis baru yag dapat dikenalkan kepada masyarakat seperti Salai Sarawa Serayo, Jantung Sedayo dan lain sebagainya," sebutnya.

    Dirjen Hortikultura Suwandi menjelaskan durian adalah buah yang paling banyak digemari oleh masyarakat Indonesia setelah itu jeruk. Selain rasanya yang nikmat durian juga banyak memberi manfaat untuk kesehatan tubuh manusia seperti kaya akan protein, serat, Vitamin B1, Vitamin B2, Vitamin C, Kalsium, Kalium dan Fosfor

    "Kami berpesan agar buah-buah durian unggulan lokal segera didaftarkan untuk diberi nama varietas sehingga semakin mudah dikenal oleh anggota masyarakat dan yang terpenting adalah bisa dikomersilkan," ucapnya.

    Suwandi juga mengharapkan bantuan semua instansi terkait untuk selalu memberikan pendampingan agar setiap sumberdaya yang ada di Provinsi Sumatera Barat dapat dikelola dengan baik. Kemudian menghasilkan produk durian unggulan yang bisa bersaing dengan durian dari negara lain.

    "Indonesia memiliki keragaman jenis dan varietas durian lokal. Varietas durian unggul yang sudah dikenal masyarakat seperti durian Pelangi dari Papua, durian Merah dari Banyuwangi, durian Srobut dari Kalimantan Barat, Durian Bawor Romo Banyumas, durian Petruk, durian Matahari dan banyak jenis lainnya," bebernya.

    Suwandi pun menyebutkan pasar durian sangat terbuka luas dan durian lokal digemari baik di dalam negeri dan mampu bersaing di pasar ekspor. Buktinya, Indonesia pada tahun 2017 masih defisit neraca perdagangan durian, namun seiring berbagai program menggerakkan mutu dan mendorong ekspor.

    "Kini pada 2018 ekspor durian lebih tinggi dari pada impornya, sehingga neraca perdagangan durian sudah surplus 733 ton," tuturnya.

    Mengacu pada data BPS Tahun 2017, ekspor durian hanya 240 ton sementara impor lebih besar mencapai 764 ton sehingga neraca perdagangan defisit 524 ton. Namun ekspor durian 2018 melonjak 1.084 ton, impor hanya 351 ton artinya neraca perdagangan surplus 733 ton.

    "Volume ekspor durian 2018 naik 353 persen dibandingkan 2017," pungkasnya Suwandi.

    [Budi*]

    No comments

    Post Top Ad

    Post Bottom Ad