Saturday, March 16, 2019

AROMA WANGI SEDAP MALAM DARI LERENG GUNUNG MERBABU


Sedap malam (Polianthes tuberosa L.) merupakan salah satu jenis bunga potong yang sering digunakan dalam rangkaian karena
mempunyai aroma wangi, susunan bunga pada tangkai yang menarik dan warna putih yang cantik.

Tidak saja sedap aromanya, tetapi
budidaya bunga potong ini sedap pula hasilnya. Kabupaten Magelang merupakan salah satu
sentra sedap malam, tepatnya di desa Citrosono
Kecamatan Grabag yang terletak di lereng
gunung Merbabu, gunung Andong dan Telomoyo.

Beberapa petani mencoba berbudidaya
sedap malam secara tumpangsari dengan tanaman cabe. Menurut Pak Erwin Sumanto petani sedap malam di Grabag, selain akan mengurangi biaya tenaga kerja untuk
pengendalian gulma, karena ditanam menggunakan mulsa, budidaya sistem tumpangsari juga
memberikan tambahan pendapatan dari produksi cabe, yang bisa diperoleh petani pada umur
3 bulan sebelum tanaman sedap malam berproduksi, karena tanaman sedap malam baru
mulai produksi pada umur 6 sampai 7 bulan setelah tanam umbi.

Pak Nasikin seorang pelaku usaha sedap malam di Grabag, menceritakan dari lahan yang
dikelola seluas 2 ha, rata-rata bisa panen 6.000 tangkai per minggu dengan harga Rp. 4.000
untuk grade A(30%), Rp. 2.500 untuk grade B(60%), dan Rp. 1.500 untuk grade C(10%),
maka omzet yang diperoleh sekitar Rp. 17,4 juta per minggu.

Pak Nasikin sudah kontrak dengan beberapa floris di Jogja maupun di Magelang, dan permintaan tersebut sudah rutin
dipasok setiap harinya. Dan pada hari Raya Idul Fitri maupun hari-hari besar, biasanya permintaan sangat tinggi, sehingga pak Isromin harus mengambil produk sedapmalam dari
petani lain.

Plt. Direktur Buah dan Florikultura Sri Wijayanti Yusuf
mengapresiasi inovasi petani di Kecamatan Grabag yang melakukan budidaya tumpangsari
sedapmalam dengan cabe untuk meningkatkan pendapatannya.

Yanti berharap bahwa petani dapat memperluas akses pasar untuk sedap malam, sehingga agribisnis ini semakin meningkat.

[Budi*]

post written by:

0 comments: