• Berita Terbaru

    Ini Solusi Holistik dan Berkelanjutan Kementan untuk Bawang Merah di Brebes

    Media Insan Produktif

    Brebes - Menjelang panen raya bawang merah di Kabupaten Brebes beberapa hari kedepan, Kementerian Pertanian (Kementan) menggelar koordinasi terpadu di Aula Kantor DPKP Brebes, Jumat (1/2). Direktur Pengolahan dan Pemasaran Hasil Hortikultura, Kementan Yasid Taufiq menegaskan bahwa tugas utama jajaran Kementerian Pertanian adalah meningkatkan produksi bawang merah. Saat panen melimpah, Kementerian lain dan Bulog diminta lebih pro aktif melakukan langkah penyerapan.

    "Permendag 96 tahun 2018 mengamanatkan kepada Bulog atau BUMN lain untuk melakukan penyerapan ketika harga bawang merah di bawah harga acuan. Kalau mekanisme ini saja diefektifkan, sudah sangat membantu petani," ujar Yasid.

    Sementara itu, Direktur Sayuran dan Tanaman Obat, Prihasto Setyanto menekankan pentingnya penyelesaian bawang merah Brebes secara holistik. Permasalahan bawang merah di Brebes sudah berlangsung lama, berkisar tentang seputar harga, OPT, pestisida dan turunnya kualitas lahan.

    "Petani menjerit karena harga turun saat panen raya. Belum lagi maraknya penjualan pestisida palsu dan perilaku atau kebiasaan petani yang suka mengoplos pestisida," ungkap Prihasto.

    Prihasto menjabarkan bahwa alokasi anggaran 2019 untuk Brebes akan difokuskan untuk budidaya sehat yang ramah lingkungan. Untuk pendampingan budidaya bawang sehat dapat dilaksanakan bekerja sama dengan klinik - klinik yang disediakan oleh Direktorat Perlindungan Hortikultura.

    "Meskipun residu pestisida bawang merah Brebes secara umum belum mencapai ambang batas tetapi harus diantisipasi sedini mungkin," tandas Prihasto.

    Data Dinas Pertanian Ketahanan Pangan Brebes mencatat panen bawang merah periode Januari - Februari 2019 mencapai 9.700 hektare dengan potensi produksi 98.943 ton. Dalam setahun, panen raya Brebes terjadi dua kali yaitu Januari - Februari dan Juli - Agustus.

    "Musim panen raya Januari- Februari 2019 Brebes dihadapkan pada kendala musim hujan. Petani terkendala pengeringan dan penyimpanan kalau harus ditunda jual. Kalau Juli - Agustus tidak masalah karena panas cukup. Kami usulkan gudang bawang yang ada di kabupaten dapat diaktifkan kembali dengan biaya subsidi pemerintah daerah," ujar Yulia Hendrawati, Kepala Dinas DPKP Brebes.

    Wakil Perum Bulog Subdivre Pekalongan, Sri Farida melaporkan bahwa saat ini telah dibangun 20 unit instalasi penyimpanan bawang merah menggunakan teknologi _Controlled Atmosphere Storage_ (CAS) di Brebes. Teknologi tersebut mampu membuat bawang merah bisa tahan disimpan selama 3 bulan. Dari total 20 unit, sementara baru 2 unit yang diuji coba dengan kapasitas 12 ton per unit.

    "Dalam waktu dekat Bulog akan menyerap 243 ton bawang merah petani Brebes dengan harga Rp 13 ribu per kg konde askip," kata Farida.

    Manager Unit Pengembangan Ekomomi BI Perwakilan Tegal, Bursya mengatakan pihaknya telah melakukan langkah konkret membangun pabrik pasta bawang merah oleh Badan Usaha Milik Petani (BUMP) Gapoktan Mulya Tani Desa Sidamulya Kecamatan Wanasari.

    "Kami sudah mengantongi izin BPOM dan LPOM MUI. Sudah siap beroperasi dan menjalin kerjasama dengan industri. Bank Indonesia juga melakukan program penyehatan lahan dengan menggandeng CSR pihak swasta di sembilan kelompok tani," jelas Bursya.

    Ketua Asosiasi Bawang Merah Indonesia sekaligus Koordinator Petani Champion Bawang Merah Indonesia, Juwari memprediksi penurunan harga bawang merah di Brebes tidak akan berlangsung lama. "Akhir Februari hingga Maret nanti harga sudah kembali membaik. Kalau petani difasilitasi supaya bisa menunda jual, saya yakin nanti akan memperoleh harga yang lebih bagus."

    Dalam forum diskusi, Kasatintel Polres Brebes, Sartono menyebut pihaknya telah mengidentifikasi adanya praktek pengurangan timbangan saat petani menjual bawang merah di Pasar Induk Brebes. "Terkait indikasi peredaran pestisida palsu, tim pengawas pupuk dan pestisida Brebes telah mengidentifikasi. Tentunya yang melanggar akan ditindak tegas."

    Ketua HKTI Brebes, Masruhi Bahro mengatakan permasalahan bawang merah di Brebes sangat kompleks dan telah terjadi selama bertahun-tahun. "Brebes sebenarnya didesain untuk bisa tanam di musim kemarau. Tapi ternyata air tidak mencukupi. Perlu dibangun waduk atau bendungan di Brebes. Terbatasnya penyuluh juga jadi masalah di Brebes. Semua pihak harus terlibat atasi masalah bawang merah Brebes."

    Keberadaan KP3 (Komisi Pengawas Pupuk dan Pestisida) Brebes akan segera diaktifkan mengantisipasi maraknya pemalsuan pestisida di Kabupaten Brebes. "Agar anggarannya dinaikkan lagi melalui melalui DPRD II Kabupaten Brebes supaya kerja pengawasannya lebih efektif," kata Masruhi semangat.

    Rapat koordinasi terpadu ini dibuka Asisten II Sekda Brebes dan dipandu Kepala Dinas Pertanian Brebes, dihadiri Direktur Pengolahan dan Pemasaran Hasil Hortikultura, Direktur Sayuran dan Tanaman Obat, Bulog Subdivre Pekalongan, Dandim, Kasatintel Polres Brebes, Distanbun Jawa Tengah, BPTP Jateng, BPTPH Jateng, BI Tegal, ABMI, KTNA dan Ketua Komisi II DPRD Brebes.

    [Budi*]

    No comments

    Post Top Ad

    Post Bottom Ad