Thursday, January 10, 2019

Begini Cara Kementan Jaga Produksi Kopi Indonesia agar tetap Merajai Dunia

Bandung – Kementerian Pertanian (Kementan) melalui Direktorat Jenderal Perkebunan mengguyur Bandung dengan 3 juta bibit kopi kepada petani swadaya. Hal itu dilekukan sesuai dengan amanat Presiden RI, Joko Widodo (Jokowi) untuk terus mengangkat ekonomi petani.
Jadi kesejahteraan petani merupakan cita-cita Presiden yang harus dibuktikan. Maka dari itu, Kementan sejak beberapa tahu lalu sudah memotong biaya anggaran mulai dari biaya perjalanan dinas, biaya potong pita dan biaya lain yang dinilai tidak perlu untuk dialihkan ke petani. Salah satunya pemberian bibit kopi dan pupuk yang dilakukan di Daerah Aliran Sungai (DAS) Citarum, Kabupaten Bandung.
“Semua biaya itu kami belikan traktor, pupuk dan bibit untuk petani di Bandung dan Daerah Jawa Barat lain.salah satunya tahun ini kita kasih bibit 1 juta batang bibit kopi. Tahun depan dan tahun depanya lagi akan kita tambah lagi bibitnya menjadi Total 3 juta bibit kopi,” kata Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman.
Lebih lanjut menurut Amran,bibit kopi yang dibagikan ini memiliki produktivitas yang tinggi bukan seperti kopi yang biasa. Bibit kopi yang diguyurkan ke petani ini memiliki produktivitas sekitar 3,5 – 4 ton per hektare per tahun. Melalui bibit unggul ini diharapkan akan meningkatkan produksi kopi nasional.
Sebab seperti diketahui bahwa permintaan kopi baik didalam ataupun luar negeri terus meningkat. Ini artinya ada peluang untuk merebut pasar kopi dunia. Hal itu karena kopi asal Indonesia memiliki karakter yang khas sehingga permintaan kopi dari Indonesia tidaklah kecil.
“Jadi dengan meningkatnya permintaan maka bisa mendorong meningkatnya pendapatan petani, karena dengan bibit unggul ini memiliki produktivitas yang tinggi,” papar Amran.
Tidak hanya itu, ditempat yang sama Direktur Jenderal Perkebunan, Kementan, Bambang menambahkan, sebelumnya tahun 2018 telah pula diwujudkan penyerahan dan penanamam 320.000 pohon benih tanaman kopi, 10.000 pohon benih tanaman pala dan 30 ton pupuk organik. Hal ini dilakukan untuk terus meningkatkan produksi kopi nasional.
Namun, bantuan tersebut harus dipelihara bukan sekedar dijaga sehingga benar-benar memberikan dampak yang nyata. sudah bukan zamannya lagi memberi bantuan, dan menerima bantuan tanpa komitmen nyata yang diwujudkan dalam aksi bersama.
“Bantuan benih tanaman kopi yang diberikan dan akan ditanam bersama dan harus dijaga, dipelihara, dirawat dan disayangi agar benih kopi itu tumbuh besar dan menjadi tanaman yang akan menjaga kita dan otomatis akan memberikan nilai ekonomi bagi pemiliknya yaitu petani,” pungkas Bambang.
Seperti diketahui, berdasarkan catatan Badan Pusat Statistik (BPS) ekspor pertanian pada 2017 mencapai Rp 441 triliun, atau naik 24 persen dibandingkan 2016 yang hanya Rp 355 triliun.
Dari angka tersebut, ekspor di komoditas perkebunan meningkat sebesar 26,5 persen atau dari US$ 25,5 miliyar atau Rp 341,7 triliun menjadi US$ 31,8 milyar USD atau menjadi 432,4 triliun.

post written by:

0 komentar: