• Berita Terbaru

    Tanam Padi Gogo, Kementan Beri Penghargaan ke Kabupaten Wonogiri

    MEDIANUGRAH.COM, Wonogiri - Direktur Jenderal Hortikultura, Kementerian Pertanian (Kementan), Suwandi selaku Penaggungjawab Upaya Khusus Peningkatan Produksi Padi, Jagung dan Kedelai (Upsus Pajale) Tingkat Provinsi Jawa Tengah memberikan penghargaan kepada Kabupaten Wonogiri atas prestasi yang diraih dalam pencapaian Luas Tambah Tanam Padi periode Oktober 2017 - September 2018 surplus 789 hektar. Wonogiri mendapat peringkat kelima se Jawa Tengah. Penghargaan diberikan pada Rapat Koordinasi Upsus Pajale di Wonogiri, Rabu (31/10).

    “Ini prestasi setahun atas capaian Luas Tanam Padi Periode Oktober 2017 - September 2018 seluas 83.134 hektar atau surplus seluas 789 hektar dibandingkan dengan periode yang sama Oktober 2016 - September 2017 seluas 82.623 hektar. Prestasi ini berkat perluasan tanam padi gogo  hingga 2.000 hektar,” ujar Suwandi.

    Dirjen termuda di lingkup Kementan ini mengungkapkan potensi padi gogo sangat luas 15.000 hektar pada lahan kering, bisa ditanam saat ada hujan. Varietas lokal selama ini yang digunakan Slegreng dengan umur panen 105 hari dan produktivitas 3,5 ton perhektar.

    “Untuk menaikkan produktivitasnya, perlu terobosan dengan benih unggul,” ungkap Suwandi.

    Lebih lanjut Suwandi mengatakan ada beberapa strategi untuk menggenjot produksi padi di Wonogiri. Pertama, melakukan tanam benih langsung (tabela) padi gogo pada saat musim gadu dan disaat air terbatas. Ini sudah diuji coba di Kecamatan Eromoko daerah dataran tinggi dan Sidoarjo.

    “Kedua, sistem methuk ngawu ngawu (semai culik) dengan melakukan persemaian di lokasi lain sehingga saat lahan sudah diolah langsung siap tanam,” katanya.

    Ketiga, kembangkan pola tumpangsari berbagai tanaman dan palawija. Keempat pemanfaatan pematang sawah untuk ditanam jagung, kacang, kedelai, refugia dan lainnya. 

    “Prinsipnya tiada hari tanpa olah tanah, tanam dan panen. Semua dilakukan secara terus menerus dengan memperhatikan kelestarian lingkungan dan sumberdaya alam. Pola ini diyakini mampu meningkatkan produksi sekaligus berbagai komoditas dan pendapatan petani,” ucap Suwandi.

    Sementara untuk meningkatkan produktivitas, sambung Suwandi dengan cara menggunakan benih unggul bersertifikat mengingat benih sebagai penciri produksi. Selain itu, menggunakan pupuk organik, pupuk hayati ramah lingkungan sehingga diperoleh kesuburan lahan. 

    “Ciri-ciri lahan menjadi subur diantaranya kandungan C-organik meningkat, tumbuh berkembang belut, cacing dan mikro-organisme lainnya,” ujarnya.

    Suwandi menambahkan, selain hal itu, dukungan petugas di lapangan sebagai ujung tombak di lapangan agar memotivasi petani baik secara swadaya maupun mengoptimalkan bantuan dari Pemerintah. Revitalisasi swadaya sumur dangkal, dam parit maupun saluran irigasi sederhana.

    “Mekanisasi pertanian agar dilakukan secara efisien, misalnya untuk pompanisasi semula menggunakan bahan bakar dengan biaya Rp 1,5 juta perhektar permusim dapat dihemat hingga tinggal Rp 600 ribu bila menggunakan listrik, menghemat hingga 50 persen bila menggunakan gas, dan menghemat hingga 80 persen lebih bila menggunakan solar-cel energy surya. Ini harus dimulai dengan demplot-demplot,” bebernya.

    No comments

    Post Top Ad

    Post Bottom Ad