• Berita Terbaru

    Warga Audiensi Dengan Bupati Plt Kabupaten Sidrap Terkait Kerusakan Lingkungan Sungai Bila


    MEDIANUGRAH.COM, Sidrap - Senin, 24 September 2018 WALHI Sulsel (Wahana Lingkungan Hidup Indonesia),  PBHI (Perhimpunan Bantuan Hukum & HAM) wilayah Sulawesi Selatan  dan AMPSB (Aliansi Masyarakat Peduli Sungai Bila) melakukan audiens dengan Bupati PLT Kabupaten Sidrap Dolla Mando dan Syamsuar selaku kepala Dinas Lingkungan Hidup di kantor SKPD Kabupaten Sidrap.

    Dalam pertemuan tersebut, Kadis PPLH Kabupaten Sidrap mengatakan bahwa terdapat sembilan tambang yang beroperasi di bawah Bendungan Bila. Dari kesembilan tambang tersebut hanya 4 yang memiliki izin, diantaranya : UD.Ahmad, CV.Ega, CV.Bilboy, CV.Shinta Pratama. Sementara 5 tambang lainnya tidak memiliki izin. "Selanjutnya tambang-tambang tersebut akan kami tindak tegas" tuturnya. Selain itu, kadis PPLH juga mengatakan bahwa besok dia dan beberapa timnya akan melakukan kunjungan lapangan melihat langsung kondisi di lokasi.

    Dalam pertemuan tersebut Bupati PLT Kabupaten Sidrap, Dolla Mando menyampaikan kepada Masyarakat bahwa  semua tambang yang ada di Sungai Bila baik yang memiliki izin ataupun yang tidak berizin akan di tertibkan. Beliau juga mengatakan bahwa, "Penambangan tidak boleh ada yang merusak lingkungan apalagi mengganggu akses irigasi dan konsumsi masyarakat sekitar". Dalam upaya menindak lanjuti laporan warga, besok, 25 september 2018 bupati PLT Kabupaten Sidrap akan mengirim Kadis PPLH, Kaporles, Kasat Intel, dan perwakilan dari AMPSB untuk memverifikasi kondisi di lokasi penambangan. "Di Kabupaten Sidrap ini memang banyak tambang yang harus ditertibkan", tambahnya.

    Sry Buana perwakilan dari WALHI Sulawesi Selatan mengatakan bahwa hari ini 24 September 2018 adalah hari tani nasional dimana hari ini merupakan momentum besar bagi petani di seluruh Indonesia. Masyarakat yang hadir dalam pertemuan sebagian besar merupakan petani sementara sebagian lainnya hidup dari petani. Penambangan yg dilakukan di sekitar aliran sungai Bila membuat masyarakat resah dan terganggu. Menurut catatan WALHI, sungai Bila mampu mengairi 7.488 Ha sawah warga, dan menjadi sumber air bagi 6.500 orang yang jika ditambang akan berdampak pada lingkungan, sosial dan ekonomi masyarakat.

    Dalam pertemuan tersebut pula ketua AMPSB (Aliandi Masyarakat Peduli Sungai Bila) Andi Tendri Sangka, SE mengatakan bahwa sudah 10 tahun mereka merasakan dampak dari pertambangan di sepanjang aliran sungai Bila, hingga membuat masyarakat resah. "Kami sangat berharap kepada PLT Bupati untuk menindak tegas para penambang yang melakukan pengrusakan", tambahnya. Melalui pertemuan tersebut, masyarakat  berharap bahwa bupati PLT Kabupaten Sidrap dapat turun langsung melihat kondisi sungai Bila. Kedepannya AMPSB, WALHI Sulsel dan PBHI berharap agar tambang di Sekitar aliran Sungai Bila segera dihentikan karena berdampak pada lingkungan dan kehidupan masyarakat juga bagi generasi kedepan.
    Sebagai penutup, ketua AMPSB membacakan tuntutan Aliansi yakni :
    1.    Melakukan penegakan hukum lingkungan atas pengerusakan lingkungan di Sungai Bila, Desa Bila Riase, Kecamatan Pitu Riase, Kabupaten Sidrap.
    2.    Melakukan penindakan terhadap 7 pemilik tambang yang telah menambang dan melakukan pengerusakan lingkungan serta merusak lahan perkebunan masyarakat di Sungai Bila.
    3.    Meriview izin-izin pengelolaan pertambangan di Kabupaten Sidrap secara khusus di wilayah Sungai Bila.
    4.    Mendesak pertanggungjawaban perusahaan penambangan untuk pemulihan lingkungan sungai Bila dan hak masyarakat disekitar dampak proyek penambangan.

    No comments

    Post Top Ad

    Post Bottom Ad