• Berita Terbaru

    Kejayaan Pertanian Sumbar di Masa Lalu

    Di masa lalu, tepatnya pada abad ke-19 atau di tahun 1800-an pertanian di Sumatera Barat sudah tergolong maju untuk ukuran dijamannya. Berdasarkan laporan dari Sir Thomas Stamford Raffles yang berkunjung ke Sumbar (dulu bernama Minangkabau) tahun 1818, digambarkan bahwa masyarakat hidup dalam keadaan makmur dengan praktek budidaya pertanian yang sangat baik dan penerapan teknologi modern seperti kincir air, irigasi dan pabrik pembuatan gula.
    Menurut beliau keadaaan tanah di Sumbar saat itu sangat subur setara dengan kesuburan tanah pertanian yang ada di Jawa dan merupakan tanah yang paling subur di Sumatera.
    Masyarakat hidup sangat makmur diantaranya dari hasil pertanian yang melimpah. Berikut beberapa jenis komoditas pertanian di Sumbar abad 19:
    1. Padi
    Padi merupakan tanaman utama di Sumbar. Tanaman padi tumbuh sangat subur dan produksinya sangat baik. Sistem pertanaman padi di Sumbar saat itu sama persis dengan teknik penanaman padi yang ada di Jawa. Misalnya penggunaan sapi atau kerbau untuk membajak sawah dan sistem terassering atau teras bertingkat di daerah yang tidak rata.
    Persawahan padi di Sumbar pada saat itu sudah menerapkan sistem irigasi. Air sungai yang melimpah dialirkan ke sawah-sawah dengan pembuatan parit-parit. Bahkan Raffles beranggapan sistem pertanaman padi di Sumbar selangkah lebih maju daripada di Jawa.
    Hal ini dibuktikan dengan digunakannya teknologi kincir air untuk mengalirkan air dari sungai ke sawah-sawah. Bahkan pada saat itu pertanian di Jawa belum mengenal kincir air. Raffles beranggapan jika kincir air adalah temuan asli penduduk Sumbar karena di seluruh wilayah Indonesia, kincir air hanya ditemukan di Sumbar yang pada saat dia berkunjung sudah lebih dari 25 tahun dalam kondisi merdeka bebas dari jajahan Belanda.
    Harga beras pada saat itu adalah 25 bambu per 1 dollar Spanyol. Namun berapa kilogram per 1 bambu belum bisa dijelaskan oleh penulis.
    2. Kelapa
    Sebagaimana halnya dengan keadaan pertanian di Indonesia pada umumnya, kelapa tumbuh dalam jumlah yang sangat banyak. Di Sumbar kelapa di tanam di pinggir jalan baik di desa maupun di sekitar sawah penduduk. Di sepanjang aliran sungai, kelapa juga banyak dijumpai. Kelapa banyak ditanam karena menjadi kebutuhan utama setelah beras untuk memasak kuliner khas Sumbar.
    3. Kopi
    Penduduk Sumbar juga banyak menanam kopi. Pada masa itu kopi adalah komoditas ekspor utama setelah lada. Pedagang dari luar negeri banyak yang datang ke pelabuhan padang untuk mendapatkan kopi sumbar. Kopi banyak ditanam di sekitar bukit barisan mulai dari desa Limau Manis hingga ke Bukit Batu, Solok dan daerah lainnya.
    4. Gula Kasar atau Gula Batu
    Jenis tanaman lainnya yang banyak ditanam penduduk Sumbar pada saat itu adalah tebu, jagung dan tanaman penghasil minyak lainnya. Tebu ditanam untuk dijadikan gula kasar atau gula. Pada masa itu di sumbar sudah banyak berdiri pabrik pembuatan gula kasar. Gula kasar yang dihasilkan menjadi komoditas dagang yang diekspor ke luar Sumbar, karena pada masa itu gula adalah komoditas langka yang masih mahal harganya.
    5. Hewan Ternak
    Jenis ternak yang paling banyak di pelihara penduduk adalah sapi dan kerbau. Sapi jantan dan kerbau banyak dipelihara untuk membantu membajak sawah. Pada saat itu harga satu ekor sapi adalah $2 Spanyol sedangkan harga satu ekor kerbau sekitar $3.
    Selain itu, di Sumbar juga banyak terdapat ternak kuda. Di daerah ini kuda tidak digunakan untuk kepentingan pertanian. Kegunaannya lebih untuk hiburan dan keindahan. Meskipun begitu jumlahnya sangat banyak dan mudah didapat. Harga satu ekor kuda lebih mahal daripada sapi atau kerbau yaitu sekitar $4 Spanyol.

    No comments

    Post Top Ad

    Post Bottom Ad