• Berita Terbaru

    Ini Ubikayu Asli Papua, Bisa Panen Hanya 2,5 bulan

    MEDIANUGRAH.COM Jakarta— Di pagi yang sudah cukup terik hari ini (Rabu, 1/8/18), Tim Balitbangtan, Kementan meninjau lokasi lahan pertanaman umbi-umbian di Kabupaten Manokwari, Papua Barat. Ketika sampai di lokasi, masih terlihat berserakannya batang-batang pohon yang sudah ditebang. Pun potongan-potongan kecil batang yang disusun bak kayu bakar. Namun di sela-sela pemandangan itu, hijaunya tanaman umbi-umbian cukup menarik perhatian. Juga ada tanaman jagung lokal yang sudah mulai menghijau daunnya.

    BPTP Papua Barat memilih lokasi ini untuk melakukan kajian Pendampingan PTT Umbi-umbian untuk meningkatkan produksi umbi lokal Papua Barat melalui skema pembiayaan KP4S SMARTD. Ini bukan daerah transmigrasi. Jadi petaninya adalah penduduk asli Papua.

    Sehari-harinya mereka bekerja sebagai nelayan. Namun ketika musim angin kencang berhembus, mereka beralih menjadi petani. Tidak, mereka tidak punya lahan tetap yang dapat diolah setiap kali istirahat dari melaut. Mereka berusahatani di ladang berpindah, dengan membuka hutan bersama kelompoknya, menanam komoditas yang sama, lalu menjual produk segarnya ke pasar terdekat.

    Hamparan lahan yang baru dibuka itu seluas dua hektar. Sudah ditanami antara lain dua klon ubikayu lokal, tiga klon talas lokal, dan satu klon ubi jalar lokal, serta jagung varietas lokal.

    Septinus Pondayar, Ketua Kelompok Oridek, salah satu poktan beranggotakan 22 orang yang menjadi kolaborator BPTP, saat berbincang dengan Tim di lahan mengemukakan kegembiraan anggotanya ketika didatangi penyuluh BPTP dalam rangka sosialisasi kerja sama tersebut.

    “Kami tanam kakao sebelum ini, tapi kena serangan hama, habis semua,” ujarnya menyebutkan alasan mengapa berminat dalam kegiatan ini. “Jadi kami gembira sekali dibantu membuka lahan ini, kami akan terus bertanam disini,” lanjutnya.

    Dalam proses persiapan lahan, BPTP memang memberikan pendampingan sekaligus mengintroduksi perbaikan teknis budidaya tanpa meninggalkan kearifan lokal yang telah bertahun-tahun diterapkan petani. Salah satu kearifan lokal itu adalah penerapan sistem kuming. Yaitu dalam satu kali musim tanam ubikayu, petani dapat memanen umbi berkali-kali dengan memilih lebih dulu umbi yang sudah besar ukurannya, sedangkan umbi yang kecil tidak dipanen dulu, tapi tetap dibiarkan terpendam dalam tanah hingga ukurannya membesar dan siap dipanen.

    Dan yang membuat takjub, petani tidak memberikan perlakuan pupuk apapun. Memang, bumi Papua ini masih sangat subur.

    “Kami bisa memanen ubikayu sampai setahun lebih dengan sistem kuming ini,” ungkapan kebanggaan dari Afner Mansebar, Ketua Kelompok Wompasi, poktan lain beranggotakan 15 orang yang juga terlibat dalam kegiatan BPTP di lokasi ini.

    Ubikayu varietas lokal ini potensinya terlihat menjanjikan. Dari satu pohon saja, umbinya dapat dipanen mulai umur 2,5 bulan setelah tanam. Bahkan hasilnya pun mencengangkan Tim Balitbangtan yang saat itu melihat sendiri hasil panen seorang petani dari satu pohon. Jika ditimbang, panenan itu ditaksir seberat 10-15 kg. Jadi, jika satu pohon menghasilkan 10 kg pada umur panen 2,5 bulan, maka bisa dibayangkan besarnya produksi dari luasan lahan yang ditanami.

    “Ini harus dilestarikan varietasnya, ya Pak, potensinya luar biasa,” pesan Dr Nono Sutrisno, salah satu Tim Balitbangtan yang bahkan sempat mencicipi mentahnya ubikayu segar hasil panenan itu.

    Setali tiga uang dengan pesan tersebut, BPTP Papua Barat berharap kegiatan KP4S SMARTD ini dapat menghasilkan output pelepasan varietas-varietas lokal Papua Barat. Tak lain, untuk melestarikan kekayaan sumber genetik lokal serta mendukung lestarinya kearifan lokal masyarakat Papua Barat..

    No comments

    Post Top Ad

    Post Bottom Ad