• Berita Terbaru

    FKM UNDIP Manfaatkan Teknologi Kementan Bersihkan aliran Air dari Residu Pestisida


    Semarang - Badan Penelitan dan Pengembangan Pertanian (Balingtan) melalui Balai Penelitian Lingkungan Pertanian (Balingtan) mulai bergeliat dan bersinergi dengan Perguruan Tinggi yang ada di wilayah Jawa Tengah. Salah satunya Penandatanganan kerjasama antara Dekan FKM UNDIP Hanifa Maher Denny, SKM, MPH, Ph.D dan Kepala Balingtan Dr. Asep Nugraha Ardiwinata, M.Si. 28/08/2018
    Dr. Asep Nugraha Ardiwinata menjelaskan, Kerjasama dengan perguruan tinggi ini sesuai arahan Mentan Amran, Agar teknologi peneliti Kementan dinikmati secara luas.  Masyarakat Jawa Tengah harus merasakan kehadiran inovasi teknologi yang dihasilkan oleh Balitbangtan dan untuk memasyarakatkan inovasi tersebut diperlukan sinergi.  Ujar Kepala balingtan ini
    Kerjasama yang diinisiasi oleh Dr. Nur Endah Wahyuningsih, M.S.i. dosen sekaligus akademisi yang mempunyai bidikan jitu dalam pemanfaatan teknologi Balitbangtan guna mendukung Program Pengabdian Masyarakat di wilayah Brebes Jawa Tengah.
    Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Diponegoro yang mempunyai kepedulian yang sama dengan Balingtan terhadap lingkungan dan kesehatan masyarakat. Tutur DR. Asep
    Dr. Nur Endah Wahyuningsih mengapresiasi program Balitbangtan akan terus melakukan inovasi  teknologi dan inovasi di bidang lingkungan pertanian untuk dapat di manfaatkan bagi para petani.
    Dosen dan akademisi ini mengungkapkan,   Masyarakat Brebes sebagian besar adalah petani bawang merah dengan penggunaan pestisida tinggi.
    Nur Endah Menuturkan, Prilaku petani terhadap pestisida belum memenuhi kaidah keamanan yang memadahi, seperti tidak menggunakan masker ketika menyemprotkan pestisida, tidak menggunakan pakaian tertutup (lengan panjang), menyemprot sambil merokok dan menyemprot tidak mengikuti arah angin.
    Selain itu, Nur Endah menambahkan,  petani membuang sisa pestisida dan mencuci semprotan di selokan sawah, padahal selokan sawah menjadi salah satu jalur perawatan tanaman (menyemprot, menyiram, mempupuk, dan juga nguleri).  Ulas Dosen FKM UNDIP
    Bila dihitung, petani bawang sekurang-kurangnya 4 jam dalam sehari kontak langsung dengan air yang ada di selokan yang telah terkontaminasi pestisida. jelasnya 
    Dr. Endah menuturkan, “memanfaatkan teknologi Kementan  guna mengurangi  residu pestisida dengan memanfaatkan Implementasi Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) sederhana”.  Tegas Endah
    Sejak tahun lalu kami bersama Tim FKM UNDIP sudah meninjau langsung implementasi FIO di saluran embung Balingtan , IPAL tersebut efektif digunakan untuk pembersihan residu pestisida yang diletakkan pada saluran sebelum dibuang ke lingkungan atau dimanfaatkan masyarakat..  Ulas Dr Nur Endah
    FIO ini berfungsi sabagai filter yang ditempatkan di saluran masuk (inlet) dan atau saluran keluar (outlet) untuk menyaring air (khususnya air irigasi) sehingga yang masuk ke lingkungan (lahan pertanian) bebas dari bahan pencemar, demikian juga yang keluar dari areal persawahan, sehingga air sehat tersebut berguna bagi tanaman dan lingkungan.
    “Meskipun kecil,  setidaknya dengan alat FIO ini dapat meminimalkan kontaminan dan bermanfaat bagi masyarakat”  Pungkas  Dr. Endah.



    No comments

    Post Top Ad

    Post Bottom Ad