• Berita Terbaru

    Kementan Deraskan Inovasi Pangan Alternatif Bergizi Tinggi

    MEDIANUGRAH.COM, Bogor  Balai Besar Pasca panen Kementan fokus melatih dan  melakukan bimbingan teknis proses pengolahan Pasca panen, salah satu Inovasi yang siap dinikmati masyarakat adalah hasil inovasi sawut pisang.

    bagaimana tidak, Kecukupan gizi saat sarapan menjadi penting bagi anak-anak untuk aktivitas hariannya. Faktor praktis dan enak juga menjadi penentu disukainya sereal sebagai menu sarapan.

    Namun, sereal yang biasa dibuat dari tepung komposit atau gandum memiliki kadar kalori yang cukup besar yaitu 379,1 kilo kalori. Belum lagi, kandungan gula dari sereal yang juga tinggi yakni hampir 33%. Jika gula tersebut menumpuk seiring dengan kebiasaan sarapan sereal, akhirnya bisa menjadikan anak-anak kegemukan.

    Inovasi  untuk bisa menghasilkan sereal sarapan yang lebih sehat, namun tetap memberikan manfaat yang sama dengan sereal umumnya. Karena itu, Balai Besar Pascapanen Pertanian, Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian mengembangkan Sawut Pisang sebagai sereal sehat kekinian.

    Balai Besar Pascapanen (BB Pascapanen) Pertanian memberikan pilihan sarapan kekinian nan sehat berupa sawut pisang yang mirip dengan sereal.

    Jika dikemas menarik, Ira optimis sawut pisang kreasi masyarakat nantinya bisa menjadi sereal sarapan kekinian asli Indonesia.

    “Seratnya tinggi, vitaminnya tinggi. Apalagi pisang mineralnya juga bagus terutama kalium,” ungkap peneliti Sawut Pisang dari BB Pascapanen, Ira Mulyawanti

    Pisang juga menjadi bentuk diversifikasi pangan non nasi yang terdekat dengan masyarakat. Dengan nilai karbohidrat yang cukup tinggi (23 gram per 100 gramnya), pisang bisa menjadi alternatif pengganti nasi.

    "Karenanya, pisang tersebut diolah dalam bentuk sereal agar menarik minat anak-anak yang ingin sarapan praktis sekaligus enak. Tinggal ditambah susu, anak-anak pasti suka,” tuturnya.

    Sepintas, Ira menjelaskan, sawut pisang ini memang berbeda dengan sereal komersial yang dijual. Pasalnya, karena hanya berupa pisang yang diserut kasar kemudian dikeringkan. Sehingga saat sereal ini dicampurkan dengan susu, sawut tersebut akan kembali pada serutan-serutan pisang.

    Ia menambahkan “Rasanya pasti khas pisang. Kita pakai pisang kepok yang memang asam manis, sehingga sangat cocok untuk ditambahkan susu,” ungkap Ira. Namun lanjutnya, untuk membuat sereal ini bisa juga menggunakan pisang jenis lainnya.

    Selain rasa original, Ira juga menggunakan campuran bahan lainnya sebagai varian rasa seperti kelapa, campuran buah (mix fruit) sampai keju. Kesemuanya tentu memberikan pisang dengan tekstur rasa lain yang berbeda. “Semua bahannya hanya dikeringkan dan dicampur. Kita tidak pakai perisa sama sekali,” ujarnya.

    Menurut Ira, adanya sereal dari sawut pisang ini bisa menjadi peluang baru bagi UMKM, khususnya di pedesaan yang memang memiliki potensi pisang. Apalagi pembuatan sereal sawut pisang sangat mudah dan bisa dilakukan UMKM karena tidak melalui proses penepungan rumit (ekstrusi).

    “Hanya perlu diserut kasar saja, dikukus kemudian dikeringkan dan dikemas dalam kemasan alumunium foil tertutup. Alatnya tidak perlu ekstruder untuk penepungan, hanya pengering saja,” tuturnya.

    No comments

    Post Top Ad

    Post Bottom Ad