• Berita Terbaru

    Inovasi Kementan Lindungi Hasil Pascapanen Cabai


    MEDIANUGRAH.COM, Magelang -  Kehilangan pascapanen pada komoditas cabai di Indonesia masih tinggi, berkisar 20-30%. Bentuk kehilangan hasil tersebut bisa dalam bentuk rusak, busuk, kering, atau mengalami penurunan mutu. Praktik panen yang dilakukan secara serampangan, tidak dilakukan sortasi, terkena serangan Antracnose serta cara pengemasan dan transportasi yang asal-asalan merupakan faktor penyebab terjadinya kehilangan hasil cabai tersebut. 

    BB Pascapanen bekerjasama dengan PT Agro Indo Mandiri melalui Project Asean Reducing Postharvest Losses mencoba mengimplementasikan inovasi Balitbangtan untuk penekanan kehilangan hasil khususnya pada komoditas cabai. 15/04/2018

    Ujicoba implementasi ini dilakukan di Desa Sugih Mas, Kecamatan Grabak, Kabupaten Magelang. Adapun kegiatan yang dilakukan antara lain sosialisasi dan bimtek penanganan pascapanen yang baik (Good Handling Practices) beserta kelengkapan teknologinya, seperti teknologi sortasi, kemasan dan transportasi bisa menekan kehilangan hasil hingga tinggal separuhnya.

    Sosialisasi dan Bimbingan Teknis Teknologi Reduksi Kehilangan Hasil Pascapanen Cabai
    Para petani di kawasan tersebut menyambut baik dan antusias terhadap kegiatan Pilot Project Asean tersebut.

    Kepala Desa Sugihmas Kecamatan Grabak, Srianto mengungkapkan “Ini merupakan pertama kali ada dukungan untuk petani cabai di desa kami. Baik petani dalam Gapoktan Maju Mandiri maupun masyarakat pada umumnya, semuanya termotivasi untuk melakukan penanganan pascapanen cabai yang baik”. Sementara itu Solikin (Ketua Gapoktan Maju Mandiri) mensinyalir perlunya penataan panen hingga pemasaran cabai. “Selama ini kita panen dan lelang (jual) cabai dalam satu hari yang sama, hari Kliwon.

    Tapi nampaknya ke depan panennya harus Wage dan jualnya Kliwon, agar ada cukup waktu untuk menyiapkan hasil panen dengan mutu terbaik dan tidak gampang rusak”.

    Lalu teknologi apa sebenarnya yang dikenalkan di lokasi kajian untuk menekan kehilangan hasil dan berpotensi menimbulkan perubahan positif dalam pengelolaan hasil panen cabai tersebut? Paket teknologi tersebut mencakup penerapan Bagan Warna Cabai untuk acuan panen, teknologi pemilahan (sortasi) cabai sub-standar, juga mengganti kemasan sementara dari karung bekas pupuk atau bekas pakan dengan krat plastik yang lebih higienis untuk mengurangi kerusakan mekanis (gencetan).

    Di tingkat pengepul dan pengepak dikenalkan teknologi pencucian dengan ozon, kemasan dengan sistem aerasi pengemasan yang baik, serta transportasi dingin (Cold Chain). Teknologi pencucian dengan ozon dimanfaatkan untuk meminimalisasi pertumbuhan bakteri, virus dan jamur, mengurangi residu pestisida dan meredam aktivitas Antracnose (penyakit Pathek) serta memperpanjang umur simpan cabai.

    Lelang cabai di Desa Banjaran, Kecamatan Ngablak, Kabupaten Magelang “Kalau cabai segar seperti ini, saya berani membeli 3 ribu rupiah lebih tinggi dari yang lain”, ungkap Sumidi – pedagang pengepul besar di desa Banjaran, Kecamatan Ngablak ketika ditunjukkan kepadanya cabai segar hasil perlakuan.

    Selain itu, ditunjukkan hasil perlakuan penyimpanan 8 hari pada suhu ruang dalam kondisi masih segar.

    Para petani berharap kegiatan implementasi inovasi Balitbangtan tidak hanya berhenti sebatas Pilot Project ini saja, tetapi terus ada pendampingan kepada para petani, pengumpul maupun pedagang cabai agar kehilangan hasil dapat ditekan.

    Dengan demikian pasokan dan harga cabai juga dapat terjaga dengan baik dan konsumen bisa mendapat harga dan kualitas yang lebih baik.

    No comments

    Post Top Ad

    Post Bottom Ad